Untuk informasi terkini mengenai kasus David Hartanto, silahkan kunjungi www.davidhartanto.com

Jumat, April 10, 2009

Autopsy Report

When he said he lost his scholarship, I said: No problem

-cut-

He (Hartono Widjaja, David's Father) said the family received the autopsy report on Sunday and asked an Indonesian doctor to explain it to them as it was written in English.

'We're not fluent in English and we needed someone to help explain the many medical terms. 'When asked about the contents of the autopsy report, Mr Widjaja said: 'It said my son had many injuries that were caused by stabbing and slashing. It does not say whether my son had committed suicide or not.'

Mr Widjaja and his wife, Madam Huang Lixian, 49, claimed they did not see any injuries on their son's wrists when they collected his body on 3 Mar.

'His wrists were bandaged so we didn't see the supposed wounds,' he said.

'But we asked the investigating officer and he said there were no injuries on David's wrists.'

However, The New Paper understands that the report did mention incisive wounds on David Widjaja's arms, including those on his wrists. It is understood that the cut on one wrist was deeper than the other.

The student had gone to see Associate Professor Chan Kap Luk, 45, in his office, and later allegedly pulled out a knife and attacked him.

After the injured Prof Chan fled, the student was seen by students climbing over a ledge along a common corridor one floor below Prof Chan's office. Minutes later, he fell to his death.

Said Mr Widjaja: 'It's very difficult for us to accept that our child could have behaved like a thug, taking a knife with him to attack his professor.'

The family also refuse to accept that he could have committed suicide.

Describing his son as an obedient boy, Mr Widjaja felt it was out of his character to attack anyone.

He said: 'He never gave us problems. He was a very polite and helpful boy. If his classmates had problems in their schoolwork, he would help them.'

Mr Widjaja also dismissed talk that his son was struggling with his final-year project, which Prof Chan was supervising.

He said: 'Every time we asked about his studies, he would say he was coping fine. He never mentioned problems.'

Mr Widjaja, who works in the electronics line, said his younger son was bright but addicted to computer games.

He and his homemaker wife had pinned their hopes on him, hoping he would graduate and get a good job.

They have another son, William, 24, a technician.

Mr Widjaja said: 'David did exceptionally well in maths but he also loved playing computer games since his Secondary 2 days.

'He wanted to study in NTU as he heard it was a world-class university in engineering.'

Sejauh ini, info tentang autopsy report cuma berita ini saja, keluarga David sedang berada di Singapura entah untuk apa, kita masih menunggu hasil yang akan muncul, semoga keluarga David bisa segera ketemu dokter yang bisa membantu mereka membaca autopsy report.

RSCM: Otopsi David oleh Singapura Tidak Sah

JAKARTA, KOMPAS.com — Ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr Mu'nim Idris, mengatakan, hasil otopsi David Hartanto Widjaja (21), mahasiswa Nanyang Technological University asal Indonesia yang tewas pada 2 Maret di kampus tersebut, tidak sah.

Sebab, pada hasil otopsi yang dilakukan oleh Singapura, tidak terdapat stempel dari Kedutaan Besar RI di Singapura. Sebelumnya, keluarga David menerima hasil otopsi tersebut dari NTU, bukan KBRI.

"Dengan demikian, Pemerintah Singapura telah menyalahi aturan yang berlaku," ujar Dr Mu'nim Idris, seperti yang dituturkan kembali oleh William Hartanto Widjaja, kakak David, kepada Kompas.com, Selasa (7/4) di Jakarta.

Seperti diberitakan, kemarin siang keluarga David menyerahkan hasil otopsi tersebut kepada Dr Mu'nim Idris untuk diteliti kembali. William menambahkan, terungkapnya penyalahaturan tersebut semakin menguatkan pihak keluarga adanya indikasi konspirasi di balik kasus yang menimpa mantan siswa SMAK I BPK Penabur tersebut. (HIN)

Keluarga Serahkan Hasil Otopsi David ke UI

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil otopsi David Hartanto Widjaja (21), mahasiswa asal Indonesia yang tewas di kampus Nanyang Technological University, Singapura, pada tanggal 2 Maret silam, akan dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, untuk dibahas.

Sebelumnya, hasil otopsi yang dilakukan oleh pihak Singapura tersebut diserahkan NTU kepada keluarga melalui surat elektronik, kemarin. "Kami akan serahkan ke RSCM hari Senin depan pukul 15.00 untuk diperiksa," ujar William Hartanto Widjaja, kakak David, kepada Kompas.com, Sabtu (4/4) di Jakarta.

Ahli forensik di RSCM, Dr Djaja, kepada Kompas.com, membenarkan hal tersebut. Namun, menurutnya, belum pasti apakah pihak keluarga akan meminta pemeriksaan hasil otopsi tersebut dilakukan secara institusi, yang melibatkan beberapa ahli forensik, atau secara perorangan.

Terkait pemeriksaan hasil otopsi yang memakan waktu sebulan, Dr Djaja mengatakan, waktu tersebut tergolong wajar jika tim forensik Singapura melakukan otopsi menyeluruh, mulai dari pemeriksaan toksikologi atau racun, hingga histopatologi, atau pemeriksaan organ-organ secara mikroskopik.

"Pemeriksaan menyeluruh seperti ini biasanya memakan waktu minimal dua minggu," ujarnya.

Sejauh ini hanya info ini yang berhasil saya dapat, kita tunggu saja kapan RSCM akan mengeluarkan hasil resminya. Kasus ini sejujurnya makin ribet (menurut saya). Semoga kebenaran dapat terungkap.


4 komentar:

audrey ruby mengatakan...

spore dodol, kyknya klamaan nyari alasan yg 'klop'..
:p

toko.semarang mengatakan...

Kalau sekarang keluarga David masih di Singapore, lebih baik langsung ke NTU juga dengan Prof CKL, untuk menanyakan kejanggalan yang ditemukan selama ini dengan bukti/argumen yang dimiliki.
David & keluarganya sebenarnya kan "konsumennya" NTU untuk produk jasa berupa pendidikan di NTU, konsumen kan berhak menanyakan ke "penjualnya" apabila ada masalah berkaitan dengan "produk yang dibelinya". "Penjual" yang baik tentu akan memuaskan "konsumennya".
Apalagi NTU merupakan universitas yang ternama di dunia dan juga ada seorang ilmuwan Prof CKL di negara Singapore lagi pastinya mereka mengenal prinsip di atas.
Jadi kalau selama ini mereka cenderung menghindar, memang patut dipertanyakan.
Sebaiknya KBRI di Singapore, mendampingi keluarga David waktu menemui NTU.
Kita doakan usaha keluarga David berhasil dalam rangka meluruskan kejadian sebenarnya.

shirley mengatakan...

Kel alm David mendatangi apartemen prof CKL tgl. 10 April jam 5pm waktu setempat, prof ada di dalam tapi tidak bersedia membuka pintu rumahnya. Kejadian ini sempat diliput sama media lokal spore dan media indo. Prof ngotot tutup mulut!!!!! Kagak mau buka pintu!!!!!

toko.semarang mengatakan...

Kalau NTU maupun Prof CKL tidak mau/sulit ditemui keluarga David, KBRI di Singapore (selaku wakil pemerintah RI di negara ini)perlu menghubungi pemerintah Singapore agar mereka memerintah NTU maupun Prof CKL guna memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan keluarga David.
Perwakilan pemerintah Singapore dan KBRI wajib menyaksikan pembicaraan antara pihak NTU dan keluarga David.